Artikel tentang kesehatan, kecantikan, hidup sehat, tips sehat, pengobatan alternatif, herbal yang akan membuat hidup anda jadi lebih baik... Dan lebih sehat tentunya!

Showing posts with label Mitos Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Mitos Kesehatan. Show all posts

Sunday, January 25, 2009

Mitos dan Fakta Seputar Maag


  • Mitos : Penderita maag tidak boleh berpuasa
    Fakta : Tidak semua gangguan maag menjadi halangan untuk berpuasa, tergantung jenis dan parahnya penyakit. Ada dua jenis penyakit ini, yaitu maag fungsional dan maag organik. Pada maag fungsional, lambung dan usus duabelas jari dalam keadaan normal tetapi fungsinya terganggu. Maag fungsional ini berhubungan erat dengan faktor psikis. Sedangkan pada maag organik terjadi kelainan anatomis, seperti luka pada lambung atau usus duabelas jari,

  • Mitos : Sakit maag hanya penyakit ringan sehingga tidak perlu penanganan serius
    Fakta : Sakit maag tidak boleh diremehkan. Terkadang sakit maag dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang serius, misalnya luka lambung yang parah. Penyakit maag yang parah bahkan dapat menyebabkan penderitanya pingsan! Tak jarang pula penyakit maag terkait dengan kanker lambung, sehingga harus diatasi dengan serius. Gangguan berupa nyeri yang hebat disertai muntah dapat mengakibatkan kekurangan cairan dalam tubuh (dehidrasi). Lebih gawat jika pada lambung yang mengalami radang terjadi pendarahan, sehingga suatu saat si penderita bisa saja muntah darah. Sakit maag juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi penyakit lain seperti bronkitis, asma, migren, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) terutama saat asam lambung naik ke tenggorokan (reflux)

  • Mitos : Minum susu bisa membuat maag kambuh
    Fakta : Ada penderita yang mengeluh maag-nya kambuh setelah minum susu, sementara ada yang tidak merasakan apa-apa. Ada pendapat yang mengatakan bahwa susu tinggi lemak maupun tinggi kalsium akan membuat penyakit maag kambuh. Hal ini masih menjadi perdebatan. Sebenarnya, penderita maag boleh minum susu apa saja. Namun sebelum mengkonsumsi susu sebaiknya minum air putih terlebih dahulu. Beberapa peneliti menganjurkan susu kedelai yang mengandung tinggi isoflavon untuk penderita maag. Seorang peneliti Jepang bernama Nagata dalam penelitiannya menjelaskan bahwa salah satu fungsi isoflavon bagi tubuh adalah mengurangi gejala maag. Isoflavon dalam kadar tinggi dapat memperbaiki lapisan lambung yang mengalami iritasi, sehingga fungsi lapisan lambung dapat kembali membaik dan sistem imun pada lambung pun meningkat,

  • Mitos : Jeruk nipis membuat maag kambuh dan perut perih
    Fakta : Meskipun terasa asam, air jeruk nipis sama sekali tidak membuat lambung perih. Selain menyegarkan, jeruk nipis juga mengandung khasiat. Rasa asam buah ini bersifat basa di dalam lambung dan akan membantu menetralisir asam lambung. Jadi sama sekali tidak menyebabkan penyakit maag kambuh. Rasa asam jeruk nipis berbeda dengan rasa asam buatan yang menyebabkan sakit perut, terutama jika diminum dalam keadaan perut kosong. Dengan sifat dasarnya yang basa, jeruk nipis dapat membantu penyeimbangan Ph di dalam sistem tubuh. Bukan itu saja, jeruk nipis juga mengaktifkan liver dalam proses detoksifikasi atau pembuangan racun dalam tubuh,

  • Mitos : Jangan makan yoghurt karena rasa asamnya akan menimbulkan gejala maag
    Fakta : Yoghurt masih aman bagi mereka yang menderita maag. Rasa asam yoghurt tidak akan merangsang produksi berlebihan asam lambung dan meningkatkan iritasi pada lambung. Dalam literatur dikatakan bahwa salah satu manfaat yoghurt adalah justru mengobati sakit maag, menyembuhkan luka pada dinding lambung. Para peneliti melaporkan dalam American Journal of Clinical Nutrition bahwa mengkonsumsi yoghurt yang mengandung bakteri menguntungkan, lactobacillus dan bifidobacterium, secara signifikan dapat menurunkan jumlah Helicobacter Pylori.

Sumber : Harian "Warta Kota" edisi 11 Januari 2009

Wednesday, January 14, 2009

Mitos-Mitos Tentang Diet


Ada beberapa mitos yang selama ini dipercayai mengenai diet. Untuk itu, ada baiknya anda simak beberapa mitos dengan kebenarannya berikut ini :
  1. Makanan rendah lemah bisa dikonsumsi sebanyak mungkin. Meski rendah lemak, tapi tetap saja mengandung kalori,

  2. Kalori bisa dikurangi dalam jumlah besar dalam waktu singkat tanpa perlu berolahraga. Tentu saja hal itu tidak benar! Mengurangi kalori dengan diet tanpa olahraga membutuhkan waktu yang lebih lama daripada diet yang dikombinasikan dengan olahraga. Jadi anda memang harus banyak melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga selain mengatur pola makan jika ingin mendapat hasil yang lebih maksimal dalam jangka waktu yang lebih singkat,

  3. Keinginan menggebu di awal masa diet. Hal itu menyebabkan anda mengurangi jumlah asupan makanan secara drastis. Jika anda biasa mengkonsumsi nasi tiga kali sehari, dapat terjadi di awal masa diet anda mengurangi asupan secara total dan hanya mengkonsumsi sayur dan buah saja dengan harapan berat badan idaman dapat segera dicapai.
Yang kemudian terjadi di akhir diet anda, yaitu di saat berat badan idaman telah tercapai, pola makan akan menjadi lebih kacau daripada sebelum diet dimulai!


Sumber : Harian "Nonstop" edisi 14 Januari 2009

Monday, December 29, 2008

Setelah Disunat Konsumsi Protein Dianjurkan


Dalam libur panjang bagi pelajar, orangtua biasanya memanfaatkan kesempatan ini untuk mengkhitankan (menyunat) anak lelakinya. Ada satu mitos yang mengatakan, bahwa ketika selesai disunat lebih baik jangan makan ikan atau makan makanan yang mengandung protein tinggi. Nyatanya, meski hal tersebut tak dapat dibuktikan kebenarannya, mitos tersebut telah jauh berkembang. Demikian dikatakan oleh dokter umum, Bambang Marsudi Raharja.

Dengan tegas Bambang mengatakan bahwa protein itu memiliki peranan penting dalam proses penyembuhan luka, sehingga bila anak selesai disunat kemudian orangtua menghindarkan anak makan yang mengandung protein, maka proses penyembuhan luka akan semakin lama. "Padahal manfaat protein ialah membentuk jaringan, pengganti sel yang rusak, dan berperan sebagai struktural yang membangun tubuh," kata Bambang.

Menurut Bambang, informasi yang beredar di masyarakat hanyalah sebuah kesalahan yang harus segera diluruskan. Kemungkinan awal beredarnya mitos tersebut dikarenakan adanya anak yang setelah selesai disunat memiliki alergi terhadap makanan yang mengandung protein yang mengakibatkan si anak merasa gatal di daerah luka.

"Orangtua yang melihat kondisi tersebut lalu beranggapan bahwa makanan yang mengandung protein akan memperlambat masa penyembuhan serta pengeringan luka," ujar Bambang.

Bambang menekankan, orangtua jangan terlalu mendramatisir informasi tentang sunat. Sunat itu merupakan operasi kecil yang bertujuan membuka kulup, sehingga kepala penis berada dalam keadaan terbuka. Pada anak laki-laki dengan mengadakan sunat terbukti manfaatnya, yaitu menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta membuang tempat bersarangnya kotoran dan najis.

"Akan tetapi, ada juga sunat yang perlu dilakukan karena indikasi medis, misalnya karena kasus yang biasa disebut dengan fimosis, yaitu keadaan dimana kulit pada kepala penis atau kulup mempunyai lubang yang terlalu sempit, sehingga tidak dapat tertarik ke belakang atau membuka dan menyebabkan kencing terasa sakit," jelas pria kelahiran Jember, 12 Oktober 1967 tersebut.

Bambang mengatakan, sebenarnya untuk melakukan sunatan tidak ada batasan umur, namun lebih baik dilakukan sejak dini. Hal itu dianjurkan untuk mencegah penumpukan zat lengket yang berwarna putih yang sering berbau tidak sedap akibat bercampur bakteri dan sisa-sisa urin.

"Pria yang disunat sudah tentu lebih higienis dan bersih. Bahkan menurut sebuah penelitian, dengan melakukan sunat maka dapat mencegah kanker ganas penis. Selain itu, dapat juga terhindar dari penyakit akibat jamur dan berbagai penyakit infeksi lainnya," ungkap Bambang.

Lebih lanjut Bambang mengatakan, pada intinya ketika selesai proses penyunatan yang harus dijalankan adalah memperhatikan dan menjaga kebersihan penis serta luka. Tak hanya itu, biasanya dokter akan memberikan antibiotik guna mencegah terjadinya infeksi dan juga obat anti nyeri bila anak merasakan senut-senut setelah selesai disunat.

"Jangan terlalu banyak larangan atau terlalu mendramatisir keadaan bagi anak yang telah selesai disunat. Biarkan mereka bergerak atau beraktivitas senyaman mungkin. Orangtua hanya perlu memberikan perhatian serta pengembangan terhadap anak," pungkas Bambang.



Sumber : Harian "Jurnal Bogor" edisi 29 Desember 2008